Di G-20 untuk pertama kalinya Biden sebagai presiden AS dapat bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping. Menurut Maisa, hal itu bukan sesuatu yang sangat istimewa sebab pada satu titik Biden dan Xi Jinping pasti bertemu karena dua perekonomian terbesar di dunia saling membutuhkan satu sama lain. “Kebetulan bertemunya di Bali," ujar Maisa.
Sementara itu, di ASEAN, menurut Maisa, akan terjadi apa yang ia sebut sebagai pertemuan yang akan membuat tensi di kawasan makin memanas.
Maisa mengatakan, resesi yang terjadi di ASEAN dan Indonesia tahun depan akan berdampak pada industri yang saat ini sedang didorong pemerintah, terutama perusahaan rintisan. Sebab, tidak pernah ada pengukuran yang tepat bagaimana perusahaan rintisan dapat berkembang seperti apakah inovatif produksinya atau seperti apa penetrasi produk ke masyarakat.
Indonesia tak Main-Main
Bali menjadi saksi suksesnya keketuaan Indonesia di G-20 tahun ini. Indonesia berhasil mendatangkan 17 pemimpin negara dalam KTT yang digelar pada 15-16 November lalu. Dalam presidensinya, Indonesia dinilai menjalankan fungsi ganda, yakni antara diplomasi ekonomi dan perdamaian.
Sejak G-20 dibentuk pada 1999, Indonesia baru pertama kali memegang kursi keketuaan. Meski perdana, tanggung jawab besar sudah mesti dipikul Indonesia. Saat perekonomian dunia belum pulih akibat pandemi Covid-19, krisis baru yang ditimbulkan akibat konflik Rusia-Ukraina tak dapat dihindarkan. Dalam isu konflik tersebut, Indonesia sebagai pengemban ketua G-20 2022 dituntut memiliki sikap yang bebas intervensi dan tekanan.
Rusia merupakan salah satu anggota G-20. Ukraina, meski bukan anggota G-20, memperoleh dukungan Barat, termasuk dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, dan Uni Eropa. Perpecahan itu dicoba disiasati Indonesia
“Pekerjaan berat itu,” kata pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah kepada Republika tentang presidensi Indonesia di G-20.
Ia turut menyoroti upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berani menyambangi Rusia dan Ukraina untuk bertemu langsung Presiden Vladimir Putin serta Presiden Volodymyr Zelensky pada Juni lalu. Kunjungan itu dilakukan di tengah seruan Barat untuk mengucilkan Rusia.
Menurut Teuku, lewat kunjungannya, Jokowi menunjukkan kepada Putin dan Zelenskyy bahwa Indonesia tidak main-main.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Suzie Sudarman turut memuji kinerja presidensi G-20 Indonesia. “Kinerjanya baik sekali. Pak Jokowi juga berusaha berdiplomasi secara baik,” katanya kepada Republika.
Menurut Suzie, Indonesia membuat sejarah lewat presidensinya di G-20. Sebab, di bawah Indonesia, G-20 tidak hanya berusaha mengatasi permasalahan atau isu ekonomi, tapi juga diharapkan menjadi pelerai konflik.
“Padahal, sebenarnya itu (pelerai konflik) bukan tujuan G-20. Tujuan G-20 bukan menciptakan perdamaian, tapi menciptakan makroekonomi yang sehat,” ujar Suzie.
Dia pun menyinggung tentang bagaimana G-20 Bali Leaders Declaration diadopsi penuh pada deklarasi KTT Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) yang digelar di Bangkok, Thailand, 18-19 November lalu.
“Kita akan tercatat dalam sejarah bahwa sebuah deklarasi G-20, walaupun itu bukan komunike akhir, diadopsi oleh APEC. Ini sejarah; menunjukkan bagaimana karya-karya diplomat Indonesia bermanfaat bagi dunia umum,” ucap Suzie.
Sejumlah pemimpin negara telah memuji keketuaan Indonesia di G-20. Ucapan itu datang dari Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Presiden Cina Xi Jinping, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, hingga Presiden Rusia Vladimir Putin.