Politik Nasional Politik Daerah Politik Parlemen Politik Luar Negeri Trending Topic Opini Politikus
Share :
Kasus Pertamax Dioplos Korupsi 196 Triluan, Prof Henry Indraguna Sebut Kejahatan dan Pengkhianatan Terhadap Negara
  Adi   05 Maret 2025
hendry indraguna Penasehat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar,
Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan adanya praktik pengoplosan BBM oleh oknum-oknum tertentu
dalam kasus dugaan korupsi di PT Pertamina.
 
Menurut Kejagung, dalam periode 2018-2023 ditemukan adanya pengoplosan antara Pertamax (RON 92) dan Pertalite (RON 90) untuk menghemat biaya produksi. 
 
Kejagung juga memastikan bahwa praktik tersebut telah dihentikan dan sekarang Pertamax yang beredar di SPBU sudah sesuai dengan standar kualitas yang berlaku.
 
Penasehat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar, Prof Dr Henry Indraguna SH. MH menyebutkan ada dua hal yang perlu dicermati dari terbongkarnya praktik korupsi dan kolusi penyelenggara negara yakni para petinggi Pertamina Patra Niaga dah swasta. 
 
Pertama, meskipun memang ada kasus oplosan di masa lalu, Kejagung sudah memastikan bahwa Pertamax yang beredar saat ini tidak lagi tercampur dengan BBM lain. 
 
"Kedua, kasus ini membuka mata publik tentang pentingnya transparansi dan pengawasan dalam industri BBM bahwa nyatanya regulator dan operator dalam public service obligation (PSO) BBM untuk rakyat pun juga diselewengkan oleh pengambil kebijakan," ungkap Prof Henry kepada suarakarya.id di Jakarta, Kamis (27/2/2025). 
 
Sebagai negara yang bergantung pada sektor energi, kata dia, perlu dipastikan di setiap tetes bahan bakar yang dikonsumsi memiliki kualitas yang baik dan aman untuk mesin kendaraan masyarakat. 
 
"Saya mengapresiasi kinerja Kejaksaan Agung mengambil tindakan tegas terhadap oknum penyelenggara negara dan swasta yang terlibat dalam praktik oplosan BBM ini sehingga kita bisa merasa lebih aman. Ini bagian dari hadirnya negara untuk memberi rasa aman. Aparat penegak hukum (APH) cukup becus bekerja meski kerugian negara telah terjadi, " kata Prof Henry. 
 
Agar kasus tersebut tak terulang, Prof Henry meminta ada pengawasan publik. Masyarakat, sebagai konsumen, juga dapat berperan dalam menjaga kualitas produk yang beredar di pasaran. 
 
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melaporkan jika menemukan indikasi pengoplosan atau penurunan kualitas bahan bakar.  Misalnya setelah BBM terisi di kendaraan kita terjadi kerusakan mesin atau korosi. 
 
"Bisa juga dengan lebih aktif mengakses informasi terkait transparansi harga dan kualitas BBM yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina melalui platform digital," terang Prof Henry. 
 
Edukasi Publik
 
Selain itu, perlunya edukasi publik juga menjadi hak penting. Menggunakan BBM sesuai rekomendasi kendaraan, serta memahami cara-cara mengecek kualitas BBM (seperti memeriksa bau atau warna bahan bakar di kendaraan), bisa menjadi langkah awal untuk mencegah penipuan atau penurunan kualitas BBM yang beredar.
 
Sebenarnya secara teknis, apabila Premium (RON 88), Pertalite (RON 90), dan Pertamax (RON 92) dioplos, maka hasil campurannya akan memiliki angka oktan yang bervariasi. 
 
Jika lebih banyak digunakan Premium dan Pertalite, hasil oplosannya akan memiliki RON sekitar 88-90. Namun jika lebih banyak menggunakan Pertamax, hasilnya bisa mendekati RON 92, tetapi jika persentasenya terlalu rendah, angka oktan bisa turun sedikit.
 
Bahan bakar oplosan ini memiliki dampak pada mesin cukup signifikan, terutama bagi kendaraan yang memerlukan bahan bakar dengan angka oktan tinggi, seperti yang disarankan untuk menggunakan Pertamax (RON 92). 
 
Wacana Online adalah media resmi. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us
©2022 Wacana Online. All Rights Reserved.