Rasanya memang sulit untuk saat ini mengembalikan Golkar seperti aslinya, yang dikatakan Reeve sebagai buah pemikiran dari Soekarno, Soepomo dan Ki Hajar Dewantara pada priode 40-an sampai 50-an. Jika kita tarik ke alam pikir para founders ini, Golkar bukanlah Partai, ia adalah Golongan Fungsionil, di sinilah Bung Karno di era itu mengubur partai-partai dan memunculkan Golkar ke panggung politik, meskipun pada akhirnya Soekarno tumbang dengan apa yang ia bangun.
Kendati demikian, di era supra modern dengan sistem multi partai ini sangatlah musykil untuk mengembalikan ke sistem itu, paling tidak Idrus Marham sudah berusaha menjaga dan melestarikan ideologi Golkar sebagai sebuah identitas yang orisinil, ideologi dengan kekayaan gagasan. Upaya inilah yang saya kira menjadi semangat Idrus Marham muncul sebagai ideolog politik Golkar, mengingat hari ini etika bangsa Indonesia sudah tercerabut dari akar kebudayaannya.
Idrus mencoba merefresh dan mengaktualisasikan kembali ideologi Golkar, sebuah doktrin ideologi utama yaitu ideologi Karya Kekaryaan, doktrin ini menekankan pada etos kerja dan produktivitas sebagai landasan berpolitik dan berorganisasi, jika kita merujuk pada kalam Tuhan ada sebuah pijakan di mana berkarya itu adalah ibadah, maka tak heran jika ada ayat i'maluu fasayarallahu 'amalakum wa rasuluhu wal mu'minun, berkaryalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin akan melihat karyamu itu.
Jika pertanyaan sulit di atas tadi, kita jawab dengan penggalan ayat Tuhan ini, maka di era supra modern ini kita diperintahkan untuk berkarya, dalam bahasa Tuhan jelas sekali itu adalah bentuk amar (perintah) yakni kata i'maluu (berkaryalah kalian). Hanya saja, yang sulit adalah, kita mengalah terhadap teknologi atau kita kuasai teknologi, maka dari itu Golkar punya semboyan filosofis yakni Karya Siaga Gatra Praja, yang dipahami secara kreatif dan dinamis sesuai dengan perkembangan zaman.
Karya Siaga adalah bentuk profesionalisme dalam tugas dan karya, Gatra Praja adalah loyalitas terhadap kekuasaan. Namun, Idrus Marham menggaris bawahi bahwa loyalitas yang dimaksud seharusnya loyalitas rasional, bukan loyalitas emosional. Loyalitas rasional, seseorang dipilih karena loyal terhadap kekuasaan dan juga produktif membangun serta bekerja secara profesional, sedangkan loyal emosional ia dipilih karena kedekatan emosional, dan ini kontra-produktif.
Mengacu pada filosofi tersebut, betapapun caranya dan bagaimana pun upayanya SDM bangsa Indonesia harus ditingkatkan sesuai amanat UUD 45 dalam frasa "mencerdaskan kehidupan Bangsa", inilah kunci problem solving untuk menuju kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Agar anak Indonesia tidak dikendalikan oleh teknologi, dan harusnya sebaliknya, menjadikan teknologi sebagai alat untuk berkarya dan berinovasi.
Patriotisme, Nasionalisme dan Religiusitas
Kecerdasan intelektual harus satu tarikan nafas dengan kecerdasan spiritual, kira-kira begitulah yang dibahasakan Maestro Idrus Marham, dua karakter ini yang melahirkan kesalehan sosial. Dalam perbincangan kaum sufi, ada istilah muraqabah (mendekatkan diri), seseorang harus melakukan meditasi, kontemplasi, tentang dirinya lalu jiwanya terbang tinggi menuju alam 'uluwwi (alam ketuhanan) untuk mencapai ekatmata (kesatuan/manunggal), setelah itu turun lagi ke alam al-sufli (alam makhluk) untuk menebarkan rahmat dengan karya-karyanya.
Ideologi Karya Kekaryaan itu tentunya didasari dengan asas Pancasila, seorang yang Pancasilais tentunya harus memiliki